Selasa, 22 Februari 2011

Bawalah Pergi Cintaku

Denger lagunya Afgan yang Bawalah Cintaku, jadi terbawa makna liriknya karena saking menghayatinya. Terbayang kalau nanti kita semua udah lulus dan ngelanjutin studi masing-masing. Mengejar cita-cita diri.
Jadi pengen nangis. Saat semuanya nanti ga akan sama seperti sekarang. Ga akan ada lagi tawa bersama, menangis bersama, melakukan hal-hal seru bersama.
Semua yang pernah kita lewati adalah mengesankan. Takkan terulang. Tak akan pernah sama.
Aku akan kangen kalian semua. Aku harap kalian juga.

Bawalah pergi cintaku
Ajak kemanapun kau mau
Jadikan temanmu, temanmu paling kau cinta
Di sini ku pun begitu
Terus cintaimu di hidupku
Di dalam hatiku sampai waktu yang pertemukan kita nanti

Pesanku.... Jangan sampai lost contact. Tetep kasih kabar satu sama lain. Tetep jaga komunikasi yang baik. Tetep jaga silaturahmi.
Pesan terakhir : jangan lupa kirim undangan kalau pada mau nikah.... hehhehehehe....
Read more >>

Rabu, 16 Februari 2011

Sebuah Nama dalam Cerita : Alifya

Mandikan Aku Bunda....

Di bawah ini adalah salah satu contoh tragis.
Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang diMILIKInya sampai akhirnya .....

Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan
kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme
tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya
sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis
maupun profesi yang akan digelutinya. ''Why not the
best,'' katanya selalu, mengutip seorang mantan
presiden Amerika.

Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi
Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda,
Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih
menuntaskan pendidikan kedokteran.
Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ''selevel'';
sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.

Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat
sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya
suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka.
Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf
pertama hijaiyah ''alif'' dan huruf terakhir ''ya'',
jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak
sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya
sebagai anak yang pertama dan terakhir.

Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan,
kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris
tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan
dari satu negara ke negara lain.
Setulusnya saya pernah bertanya, ''Tidakkah si Alif
terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal?'' Dengan sigap
Rani menjawab, ''Oh, saya sudah mengantisipasi segala
sesuatunya. Everything is OK!'' Ucapannya itu
betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian
anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter
mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat
telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah,
cerdas dan gampang mengerti.

Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada
cucu semata wayang itu, tentang kehebatan
ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang
naik pesawat terbang, dan uang yang banyak.
''Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.''
Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di
akhir dongeng menjelang tidurnya.

Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia
minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga
itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian
anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk
menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah
kecil ini ''memahami'' orang tuanya. Buktinya, kata
Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya
mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski
kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali
ngambek.
Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut
kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani
menyapanya ''malaikat kecilku''.
Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua
orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh
cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.

Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah
mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. ''Alif
ingin Bunda mandikan,'' ujarnya penuh harap. Karuan
saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat
diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif
sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan
keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif
agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya.
Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski
wajahnya cemberut.

Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ''Bunda,
mandikan aku!'' kian lama suara Alif penuh tekanan.
Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena
Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih
minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif
bisa ditinggal juga.

Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien,
sang baby sitter. ''Bu dokter, Alif demam dan
kejang-kejang. Sekarang di Emergency.'' Setengah
terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late.
Allah swt sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat
kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.

Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan
kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah,
satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya.
Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang
menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya
sendiri.

Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah
tubuh si kecil terbaring kaku. ''Ini Bunda Lif, Bunda
mandikan Alif,'' ucapnya lirih, di tengah jamaah yang
sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari
sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami
masih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali
Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ''Ini sudah
takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupun
di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi
juga kan?'' Saya diam saja.
Rasanya Rani memang tak
perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung
seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya
kosong. ''Ini konsekuensi sebuah pilihan,'' lanjut
Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak.
Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.

Tiba-tiba Rani berlutut. ''Aku ibunyaaa!'' serunya
histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini
saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan
yang meledak. ''Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan
Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali
saja, Aliiif..'' Rani merintih mengiba-iba. Detik
berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di
atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang
menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.

-- Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong.

-- Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat.

-- Sering kali orang sibuk 'di luaran', asik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang2 di dekatnya yang disayanginya. Akan masih ada waktu 'nanti' buat mereka jadi abaikan saja dulu.

-- Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada.

-- Pelajaran yang sangat menyedihkan.

Semoga yang membacanya bisa mengambil makna yang terkandung dalam kisah tsb.
Catch the chance, keep and manage it well
Read more >>

Jumat, 11 Februari 2011

Harus Berputar Dulu...

Mungkin harus berputar dulu menjadi sesuatu yang bukan kita, demi bisa menjadi diri kita lagi.
 -Perahu Kertas-

Apa yang kita ekspektasikan dalam hidup ini tak selamanya bisa sesuai dengan kenyataan. Kita menusia hanya bisa berencana, namun semua keputusan ada di tanganNya. Adakalanya kita harus bersabar dengan menjadi orang lain, dan setelah kita mendapatkan kepercayaan mereka, kita bisa dengan bebas menjadi diri kita. Melakukan semua hal yang kita inginkan.
 

Kuncinya sabar. Sabar menanti pengabulan doa oleh Allah SWT setelah semua usaha yang kita lakukan. Dia MahaTahu yang terbaik untuk kita. Karena Dia Tidak Memberi apa yang kita inginkan, tapi apa yang kita butuhkan dalam hidup ini. Dia Memenuhi kebutuhan kita dalam menuju jalanNya yang lurus.

Read more >>

Tidak Ada yang Sama

Tidak ada yang sama di dunia ini. Kalau kita mencari, pasti ga akan ketemu. Kita hanya bisa menemukan yang mirip dengan yang kita cari. Ga akan ada yang sama persis tanpa beda sedikitpun.

Tuhan Menciptakan makhluknya ga ada yang sama. Bahkan mereka yang kembar sekalipun. Kita semua berbeda. Kita semua diberikan keunikan masing-masing. Tinggal bagaimana kita menghadapi perbedaan itu, memahami keunikan-keunikan kita, menerima kekurangan kita, dan tidak membanggakan kelebihan kita.

Semua yang Tuhan Berikan dalam hidup kita sudah sesuai porsinya. Pas, proporsional. Maka dari itu, yang harus kita lakukan adalah bersyukur, tidak mengeluh, ataupun malah menyalahkan Tuhan. Dengan banyak-banyak bersyukur, kita akan bahagia. InsyaAllah.
Read more >>

Selasa, 01 Februari 2011

Jilbab

Jilbab melindungi kepalamu dari panas saat di dunia
akan melindungimu dari panas api neraka saat di akhirat
Jilbab ini menghangatkanmu di saat kedinginan di dunia
akan menghangatkanmu saat dibangkitkan dari kubur di akhirat
Jilbab ini menutup auratmu saat di dunia
akan menutup aibmu saat di akhirat
Jilbab ini membedakanmu dengan wanita kafir saat di dunia
akan menunjukkan jalanmu menuju kumpulan umat Nabi Muhammad SAW saat di akhirat
Jilbab ini menjaga kehormatanmu sebagai wanita saat di dunia
akan menjunjung kehormatanmu sebagai wanita penghuni surga dari kaum Muhammad
Read more >>